Penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka membatasi pergerakan masyarakat saat pandemi corona COVID-19, membuat tenaga pemasaran atau agen asuransi tak leluasa bergerak untuk melakukan penawaran asuransi ke masyarakat. “Intinya, COVID-19 mengakibatkan aktivitas sales terkendala. Enggak bisa melakukan pertemuan untuk jelaskan produk asuransi. Pasti akan terjadi penurunan produksi tahun ini dibanding 2019,” demikian tutur Hotbonar Sinaga, mantan Dirut Jamsostek (Persero) kepada reporter Tirto.id.
Kondisi tersebut membuat agen asuransi harus melakukan penyesuaian dan perubahan cara pemasaran. Bila tak gesit, tentu saja umur mereka tak akan panjang. “Agen asuransi yang tidak melakukan penyesuaian tahun akan celaka.” tegasnya lagi.
Penyesuaian apa saja yang harus dilakukan? Artikel ini akan memberikan gambarannya untuk kita.
Belajar Pemasaran Asuransi Dari RJ. Pinney

Perkenalkan; Ryan J. Pinney anggota MDRT dari Roseville, California, yang telah melakukan pemasaran asuransi berbasis internet (website) selama 11 tahun. Teknik pemasaran yang dilakukannya ini membantunya mencapai prestasi Top of the Table MDRT selama 11 tahun berturut-turut.
Ryan J. Pinney suka bergurau bahwa dia sudah menjalankan bisnis asuransi-nya di internet sejak Google belum menjadi kata kerja. Dan sebetulnya ia tidak sedang bercanda.
Pemasaran melalui internet (digital marketing) membuatnya terhindar dari kendala menemui prospek saat pembatasan sosial diterapkan di masa pandemi yang melanda dunia saat ini. Aktifitas pemasaran berupa edukasi, list building, dan komunikasi dengan prospek dapat terus ia lakukan melalui pemasaran internet karena semua dapat dilakukan dari rumah; tanpa perlu bepergian atau menemui secara langsung calon nasabahnya.
Pemasaran Asuransi Di Masa Pandemi Di Indonesia
Apa yang dilakukan oleh RJ. Pinney seperti telah diulas sebelumnya dapat kita tiru. Kita dapat melakukan pemasaran melalui internet (website) atau biasa disebut dengan digital marketing.
Pertanyaan selanjutnya, berapa banyak prospek potensial yang ada di internet? Apakah cukup banyak untuk bisa dijadikan peluang untuk pemasaran asuransi?
Infografis berikut dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Infografis dari Hootsuite di atas menunjukkan kepada kita bahwa ada lebih dari 175 JUTA pengguna internet di Indonesia pada tahun 2019. Atau sekitar 64% dari total jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan berjumlah 272 JUTA jiwa di tahun 2019. Cukup banyak bukan?!
Bagaimana menurut Anda?
Apakah jumlah pengguna internet yang mencapai 175 JUTA tahun lalu cukup banyak untuk menjadi prospek potensial pemasaran kita?
Apakah Anda juga melihat peluang yang sama seperti yang telah dilihat tokoh kita RJ. Pinney?
Apakah Harus Punya Website Sendiri Supaya Bisa Seperti RJ. Pinney? Atau Cukup Dengan Sosmed?
Sudah banyak diketahui bahwa dalam aktifitas pemasaran, termasuk di dalamnya pemasaran asuransi, list prospek adalah syarat dan langkah awal aktifitas pemasaran. Karena itu, membangun list prospek sangat diperlukan oleh agen asuransi sebelum memulai aktifitas pemasarannya.
Tapi bagaimana cara membangun list prospek di saat pandemi seperti ini?
Aktifitas pemasaran digital, baik website maupun sosmed (sosial media) adalah cara yang ampuh untuk membantu kita mengatasi masalah ini. Dengan kemampuannya yang menembus batas wilayah dan waktu, kita dapat membangun list prospek kita sendiri tanpa perlu melangkah keluar rumah.
Lalu, pemasaran internet manakah yang dapat lebih efektif membantu kita membangun list prospek kita sendiri? Apakah melalui sosmed atau melalui website/toko online/kantor online?
Meskipun keduanya dapat efektif membantu kita membangun list prospek, pemasaran digital melalui sosmed memiliki keterbatasan yang biasa disebut karakteristik. Sosial media sebagaimana namanya adalah media bersosialisasi. Sehingga tak heran jika sebagian besar pengguna sosmed menggunakannya dengan tujuan bersosialisasi. Bukan untuk belanja atau mencari tahu tentang suatu produk atau jasa.
Di samping itu, di sosial media kita tidak dapat secara langsung (otomatis) memiliki data nomor handphone/Whatsapp ataupun email pertemanan atau follower kita. Data penting tersebut tersimpan rapi oleh penyedia/platform sosmed (Facebook/Instagram/Twitter/dll). Jika kita ingin menyimpannya, kita harus melakukan usaha tambahan misalnya dengan men-download email atau no handphone pertemanan/follower kita di sosial media. Repot juga ya! Belum lagi jika tiba-tiba platform sosmed yang kita gunakan tutup/bangkrut; contohnya BBM (Blackberry Messenger).
Berbeda dengan sosial media, dengan memiliki website, yang adalah toko atau kantor online kita sendiri, kita dapat secara otomatis menyimpan setiap kontak yang berkunjung ke website atau toko atau kantor online kita. Tak perlu lagi repot mencatat ulang atau men-download-nya.
Dan tak perlu lagi was-was jika suatu saat penyedia/platform-nya tutup. Karena kita sendirilah pemilik platform-nya.

Sebagai penutup, mari kita lihat data dari infografis di atas. Data dalam infografis tersebut di atas menunjukkan bahwa ada lebih dari 1,6 MILYAR (1.689.000.000) kunjungan ke Google. Yaitu lebih dari 2,5 kali lipat kunjungan ke YouTube maupun Facebook. Bahkan 16 kali lipat kunjungan ke Instagram maupun Twitter.
Dan jumlah kunjungan sebesar itu adalah jumlah rata-rata kunjungan dalam rentang waktu bulanan! Lalu berapa jumlahnya dalam setahun? Tinggal dikalikan 12 deh! Bagiamana? Banyak atau banyak bangeeeeedd?
Semoga artikel ini bermanfaat dan membuat Anda bersemangat untuk mulai membangun website/toko online/kantor online Anda sendiri, serat membagikan artikel ini kepada teman dan kerabat. Karena berbagi itu juga ibadah.
Yuk Go Digital! Dan mulai membangun database (list) prospek kita sendiri menggunakan website kita sendiri.







